BEYOND COMMUNICATION: BANGUN RELASI YANG MEMBUKA PELUANG (PRESS RELEASE & RESUME)
Bandung, 14 Juli 2026 – NEXORA Official bersama Duta Potensi Pemuda Indonesia (DPPI) Jawa Barat 2026 sukses menyelenggarakan International Webinar dalam rangkaian program Youth Development Hub and Soft Skill dengan tema “Beyond Communication: Bangun Relasi yang Membuka Peluang” pada Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh 20 peserta. Webinar ini dilaksanakan pada skala International pendaftar terdiri dari 2 negara, yakni Indonesia dan Malaysia, dengan pembicara Miss Izzah Annuar.
Webinar ini membahas pentingnya kemampuan komunikasi dalam membangun relasi, networking, dan kolaborasi. Peserta diajak memahami berbagai hambatan yang sering membuat seseorang kesulitan membangun hubungan dengan orang lain, seperti kurang percaya diri, takut memulai percakapan, kurang mampu mendengarkan, hingga komunikasi yang kurang efektif.
Tidak hanya membahas teori, peserta juga diperkenalkan pada cara membangun komunikasi yang baik, terarah, dan bermakna sebagai langkah awal untuk menciptakan relasi yang berkualitas. Relasi yang dibangun dengan baik dapat membuka berbagai peluang dalam pengembangan diri, organisasi, personal branding, hingga karier.
Pembahasan juga dikaitkan dengan collaboration sebagai salah satu keterampilan penting abad ke-21. Kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan menjadi fondasi dalam menciptakan kolaborasi yang mampu memperluas jaringan serta meningkatkan dampak yang dihasilkan.
Melalui kegiatan ini, NEXORA dan DPPI Jawa Barat 2026 berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk mulai membangun koneksi, memperluas networking, dan menciptakan kolaborasi nyata dalam lingkungan pendidikan, kepemudaan, organisasi, maupun karier.
“Komunikasi membuka relasi, relasi membuka peluang, dan kolaborasi menciptakan dampak.”
Kemudian bagaimana cara membangun relasi melalui komunikasi versi yang disampaikan narasumber?
Sebelum jauh membahas resume pematerian, sobatXora tahu tidak, kalau salah satu keterampilan abad 21, yakni Collaboration atau kerja sama. Dapat dikatakan skill tersebut menggantikan posisi "competition", maksudnya bagaimana? Saat ini banyak sekali persaingan ketat, merasa harus lebih baik dari yang lain supaya mendapatkan jabatan, keuntungan, dan nama yang baik, tidak sedikit juga mereka dari kompetisi tersebut bertindak curang. Padahal fokus dan tujuan utama dari adanya eksekusi, yakni hasil yang baik dan bermanfaat bagi yang lain, bukan merasa paling hebat dari yang lain. Maka dari itu keterampilan abad 21 menekankan salah satu skill, yakni kolaborasi, melalui kolaborasi tersebut antar pribadi, komunitas, organisasi, perusahaan, dan sebagainya dapat survive serta dapat memperbesar skala impactnya. Jadi tidak ada ketakutan ketertinggalan dengan komunitas/lembaga lain yang dimiliki orang lain, karena posisi pada kolaborasi adalah setara.
Sudah terbayang bagaimana peran Collboration sebagai keterampilan abad 21? Yah posisi skill ini tidak sepenuhnya menggantikan Competition, karena pada dasarnya juga secara marketing, kompetisi hadir untuk menarik pasar kepada perusahaan tersebut, namun jauh lebih baik menggabungkan collaboration ini untuk competition. Namun bagaimana bisa membangun collaboration tersebut, tanpa adanya relasi yang baik, kemudian bagaimana cara membangun relasi yang baik itu.
Kita mulai dengan apa saja yang membuat kita sulit berelasi, terdapat beberapa kasus yang diberikan oleh narasumber, sebagai berikut
Kasus 1: Dina merupakan orang yang produktif, pintar, kreatif, dan memiliki banyak sekali ide, dia sering membantu temannya, namun ketika dia mendapatkan kesempatan menjadi speaker, dia menolaknya sambil berkata "orang lain lebih cocok, aku belum bisa, takut mengecewakan"
Kasus 2: Alya menghadiri acara profesional, di sana dia bertemu dengan salah seorang yang terkenal, kemudian orang itu bertanya kepada Alya "apa yang sedang kamu kerjakan?!". Kemudian Alya menjawabnya secara umum karena tidak tahu apa yang dia kerjakan, apa potensi milikinya serta bakat yang dia punya apa. Alya ingin sekali menghubungi kembali orang itu namun bingung apa yang ingin di sampaikan dan dibincangkan.
Kasus 3: Budi bersama teman-teman mahasiswa lainnya mendapatkan panggilan dari dosen bahwa akan ada projek penelitian bersama universitas lain, budi ingin mengikuti namun dia berkata "ah mungkin ini projek biasa, setelah mengikutinya juga pasti tidak akan mendapatkan apa apa". Siapa sangka, teman-teman budi yang mengikuti projek penelitian tersebut mendapatkan peluang lanjutan bertemu dengan professor universitas lain, dan mendapatkan projek penelitian baru di tingkat yang lebih tinggi dan skala yang lebih besar.
Kasus 4: Arif merupakan mahasiswa yang pintar dan aktif, dia sering sekali mengikuti keorganisasian dan aktivitas lainnya. Sampai saat nya, dia ditawarkan menjadi narasumber, mengikuti projek penelitian, volunteer, lomba, dan masih banyak lagi, dia menerima semuanya karena menganggap semuanya penting dan dapat memberikan dampak perubahan besar bagi dirinya. Namun setelah ia terima dan jalankan semuanya, dia merasa tidak bisa menikmati setiap prosesnya dan akhirnya mengalami stuck karena overjob.
Berdasarkan kasus tersebut apa yang dapat kamu ambil, apa saja yang menjadi penghambat dalam berelasi/kerja sama dengan yang lainnya?.
Berdasarkan kasus-kasus di atas dapat diuraikan beberapa faktor yang dapat menghambat kita dalam berelasi, di antaranya: kurang percaya iri. Dina sebenarnya memiliki potensi, tetapi karena kurang percaya diri dan takut terhadap nilaian orang lain, akhirnya dina menutup diri, orang lain juga tidak bisa mengetahui kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh dina. Pelajaran yang berharga, bahwa kurangnya kepercayaan diri dapat menghilangkan oppurtunity yang kita punya dalam action. Pada kasus kedua, Alya kurang mengenal dirinya sendiri atau yang disebut sebagai Self-Awarrenes, karena dia yang belum bisa memahami value dirinya, dia tidak bisa memperkenalkan kepada orang lain, serta merasa kebingungan ketika ingin mencari celah atau kecocok di antara dirinya dengan orang profesional itu. Self-Awarrenes menjadi salah satu faktor fundamental dalam pembangunan relasi, bagaimana kita dapat mengenal dan berelasi dengan orang lain jika kita sendiri belum sepenuhnya memahami diri sendiri. Apakah wajar muncul kebingungan ini, wajar sekali namun kita bisa mengetahui semuanya melalui self-awarrenes.
Pada kasus ketiga, Budi terhambat oleh mindset yang terlalu skeptis dan kecenderungan meremehkan peluang. Ia melihat kesempatan hanya berdasarkan manfaat langsung, bukan potensi jangka panjang dari relasi dan pengalaman yang mungkin terbentuk. Tidak semua peluang memberikan hasil secara instan; terkadang peluang terbesar muncul dari relasi yang kita bangun di dalamnya. Sedangkan pada kasus ke-4, Arif memiliki masalah yang berbeda. Bukan tidak berani mengambil peluang, tetapi tidak mampu menentukan prioritas dan batas diri. Networking yang sehat bukan berarti menerima semua kesempatan, melainkan mampu memilih relasi dan peluang yang paling sesuai dengan tujuan. Terlalu banyak menerima peluang tanpa mempertimbangkan kapasitas diri dapat membuat networking dan pengembangan diri justru menjadi beban.
Ada beberapa step untuk membangun relasi ala Narasumber, yakni
- Kenali Diri Sendiri : lakukan personal introduction, mencakup: siapa saya, minat apa yang saya miliki, potensi dan bakat apa yang saya miliki, peluang karir yang dapat saya dalami dan tekuni, apa yang sedang saya cari?. Selain itu, kamu bisa melakukan analisis terhadap apa yang kamu produksi, apa yang bisa kamu jual, dan siapa yang kira-kira cocok dengan kamu dalam bekerja sama.
- Kenali Calon Collaborator sebelum Bertemu: siapa orang yang ingin kita ajak kerjasama, research mendalam pada calon collaborator kita, latar belakang dan pengalamannya, organisasi atau perusahaan yang diwakilinya, fokus dan bidang kerja yang ditekuninya.
- Mindset memberi bukan hanya menerima: ia boleh berupa pemikiran, ide, produktifitas, tenaga, dan barang. Berdasarkan buku 99 sesat pikir Prof. Rudolf terdapat salah satu insight yang di mana dalam dunia bisnis, dunia marketing, kebanyakan orang yang memiliki perusahaan akan tertarik pada pekerjaan atau job yang apabila di dalamnya terdapat insentif untuk orang tersebut.
- Jaga Hubungan Selepas Bertemu: ucapkan terima kasih, kirim laporan, apreasisasi perkembangan, dan tanyakan pengembangan. Sustainbility kerja sama akan melahirkan oppurtunity baru.


Komentar
Posting Komentar